Akhir-akhir ini lagi banyak yang senang marah-marah di twitter. Saya juga, lho. Sering malah. Keren kan?
Kapan lagi ada marah-marah yang diwakilkan oleh huruf demi huruf?  Ditambah sedikit tanda baca. Ehhm, sedap :)

Twitter emang paling keren dijadiin tempat buat penyaluran uneg-uneg. Apapun yang saya tulis, saya yakin dan sepenuhnya yakin, pasti bakalan ada followers yang baca kok. Belum lagi akun-akun non followers lain yang sengaja nge-stalk.
Wohoho~
 
No problem. Intinya sih, sebisa mungkin tweet-tweet yang kita buat itu bisa membantu meluapkan apa yang mengganjal di diri kita. Termasuk kemarahan. Setidaknya dengan tulisan, kata-kata yang akan kita keluarkan terpikirikan lebih dulu di otak. Beda dengan marah langsung yang dikendalikan emosi. Kata-kata keluar seperti lancar seperti petasan kering. Walaupun marah melalui tulisan juga kadang sulit dikontrol.

Marah yang sopan di twitter menurut saya:
  1. Hindari kata-kata yang kasar. Siapa pun yang baca pasti ga nyaman.
  2. Pilih kata-kata yang efisien dan memiliki makna yang mendalam tapi tetap sopan. Setidaknya dengan memikirkan kata-kata, emosi kita bisa sedikit lebih ditekan, atau mungkin hilang.
  3. To the point. Bikin #jleb orang yang anda singgung. Namun tetap buat orang lain yang baca tweet kita merasa nyaman. (pengalaman: Pernah mau nyinggung seseorang, tapi saking bingungnya merangkai kata-kata yang ga menyinggung perasaan orang lain, emosi terlanjur hilang. Jadi kesal sama diri sendiri. Zzz.)
Tips ini juga bisa digunakan di facebook, blog, friendster, atau media lain tergantung kreatifas si pemarah.

Kelihatan kurang jantan ya marah-marah lewat tulisan? "Weitss. Sabar bro!!". Tulisan bisa dijantan-jantanin kok. Tenang aja. 
[N G A R A N G !!!]
Lagian, marah kok pake bawa-bawa kejantanan, marah ya marah aja!. Pasti belum pernah denger istilah: Kalau ibu-ibu sudah bersatu, superhero pun ngalah". Addeh, makin out of topic.

Ohiya, jangan pernah ngebayangin saya ngetik tweet demi tweet dengan emosi tinggi, muka merah membara, rambut mohawk berdiri-berdiri sambil menahan gejolak jiwa yang mendera. Waaaw...!! Ga marah kayak gitu juga kali yaa.

Singkat kata, menurut saya sih marah itu (bagaimana pun kondisinya) harus dimanage dengan baik. Ada kalanya orang atau bahkan seisi dunia harus tau kalau kita sedang marah. 
Namun, ada kalanya kemarahan lebih baik hanya jadi rahasia berdua dengan Tuhan.

Maaf,
Sekian, dan
terima kasih.




E i t s ! N o t   f o r   s a l e  : )
*ga ada yang minat juga kalee*