Sebelum UU Anti Pornografi dan Pornoaksi disahkan,
banyak mulut yang berkata TAK SETUJU dengan RUU tersebut.
Alasan yang paling jelas kita tangkap bahwa RUU tersebut membatasi KREATIFITAS orang-orang.
(alasan yang sangat tidak masuk AKAL)
Untungnya sekarang RUU APP tersbut sudah menjadu UU yang SAH.
*walaupun seakan tak ada perubahan (itulah polemik di negaraku tercinta, Indonesia)

Berbicara mengenai FILM yang sangat sarat akan UU ini,
banyak sutradara (dan orang yang bergerak dibidang perfilman) yang MENUNTUT PEMBUBARAN LEMBAGA SENSOR FILM.
Bagi mereka, lembaga ini akan menghambat kreatifitas mereka dalam berkarya.

Nah,
inilah mungkin respon mereka (secara tidak langsung) jelas-jelas mengatakan bahwa :
"KAMI TIDAK KREATIF, KAMI SUDAH SUSAH CARI IDE, KOK MALAH DIBATASI LAGI??"

--------------------------------------------

Saya yakin anda semua bisa menilai YANG MANA LEBIH KREATIF :
IDE YANG TIMBUL DITENGAH KETERBATASAN DINDING NORMA
atau
IDE YANG TIMBUL DARI KELUASAAN TANPA BATAS ??

*tontolah film dari sutradara yang setuju terhadap batasan-batasan norma!
PESAN WASIAT DARIKUUU :
Jangan nonton film "HANTU KACANG IJO"!!
"Dokter juga manusia!" kata-kata pamungkas yang diucapkan oleh kaum dokter yang melakukan malapraktek.

Bukan maksud menjelek-jelekkan dokter kok, karena memang tidak semua dokter begitu!
Kembali lagi kepada kodrat dokter sebagai manusia biasa, hal ini lah yang membuat kita (yang bukan dokter) semakin was-was.

Aku pertama kali mengetahui tentang kasus malapraktek waktu umur 6 tahun, membaca kisah seseorang wanita yang didalam perutnya tertinggal gunting operasi (1996).

Naudzubillah....

Udah deh..gak mau bahas kasusnya lagi - NGERI! -

Belum lagi di TV banyak diberitakan bahwa ada dokter yang tidak ramah kepada pasiennya dan memberikan obat yang tidak sesuai dengan diagnosa, belum lagi dokter aborsi, dan lainnya lah.
INILAH KEBERANEKARAGAMAN (mulai dari urusan birokrasi sampai urusan nyawa, semua bisa dipermainkan).

pertanyaan yang mendasar :

KENAPA INI SMUA BISA TERJADI ?

SISTEM PENDIDIKAN DOKTER YANG KURANG BAGUS ?

ATAU SALAH DOKTERNYA SENDIRI ?

Mungkin waktu jadi mahasiswa, kurang belajar (nongkrong, dll)
Ada dokter yang "mungkin" tidak terlalu minat jadi dokter.
(desakan orang tua, ikut-ikutan, OTAK tak sampai tapi DUITnya "sampai" untuk membayar masuk FK)
atau FAKTOR LAINNYA.

Tapi ingat...
Kembali lagi ke FITRAH manusia, no body's perfect.
Kita tidak boleh langsung menjudge buruk citra dokter,
"Dokter mana sih yang mau mencelakakan pasiennya? Apa untungnya buat dia?"
KITA CUMA BISA BERHARAP DAN BERDOA
Smoga kasus malapraktek tidak ada lagi.
AMIEN

*******************
masa harus ke dr.Stone (PONARI "batu celup") ?
itu juga bisa menyebabkan malapraktek,
klo sakit perut siapa yang bertanggung jwab????